Paskibraka Bojonegoro 17 Agustus 2012

Paskibraka Bojonegoro 17 Agustus 2011

Air Terjun

Editing berita

PROSES KERJA JURNALISTIK

  1. Rapat Redaksi
  2. Repotase
  3. Penulisan Berita
  4. EDITING: proses memeriksa kembali naskah/tulisan untuk menyempurnakan tulisan, yang menyangkut ejaan, gaya bahasa, kelengkapan data, efektivitas kalimat, dan sebagainya. Pelaku disebut editor atau redaktur
  5. Setting dan Lay Out: proses pemilihan Setting merupakan proses pengetikan naskah yang menyangkut pemilihan jenis dan ukuran huruf. Sedangkan layout merupakan penanganan tata letak dan penampilan fisik penerbitan secara umum. Setting dan layout merupakan tahap akhir dari proses kerja jurnalistik. Setelah proses ini selesai, naskah dibawa ke percetakan untuk dicetak sesuai oplah yang ditentukan.

PROSES EDITING (MENYUNTING NASKAH)

  1. PENYUNTINGAN SECARA REDAKSIONALà Editor memeriksa tiap kata dan kalimat agar logis, mudah dipahami, dan tidak rancu (benar ejaan, punya arti, dan enak dibaca).
  2. PENYUNTINGAN SECARA SUBSTANSIAL à Editor memperhatikan dat dan fakta agar tetap akurat dan benar. Isi tulisan mudah dimengerti. Sistematika harus tetap terjaga.

MENYUNTING BUKAN SEKADAR MEMOTONG TULISAN AGAR PAS DENGAN SPACE, TAPI JUGA MEMBUAT TULISAN YANG ENAK DIBACA DAN MENARIK, AND TIDAK MEMPUNYAI KESALAHAN FAKTUAL

KEGIATAN EDITING

  1. Memperbaiki kesalahan-kesalahan faktual.
  2. Menghindari kontradiksi dan mengedit berita untuk diperbaiki.
  3. Memperbaiki keaslahan ejaan (tanda baca, tatabahasa, angka, nama, dan alamat).
  4. Menyesuaikan gaya bahasa dengan gaya surat kabar bersangkutan.
  5. Mengetatkan tulisan (meringkas beberapa kalimat menjadi satu atau dua kalimat yang memiliki kejelasan makna serupa).
  6. Menghindari dari unsure-unsur penghinaan, arti ganda, dan tulisan yang memeuakkan (bad taste).
  7. Melengkapi tulisan dengan bahan-bahan tipografi (missal, anak judul/subjudul).
  8. Menulis judul yang menarik.
  9. Menulis keterangan gambar/caption untuk gambar/foto dan pekerjaan lain yang bersangkutan dengan cerita yang disunting.
  10. Menelaah kembali hasil tulisan yang telah dicetak, mungkin masih terdapat kesalahan secara redaksional dan substansial.

FOKUS EDITOR

  1. Sadar akan latar belakang  para pembaca (umur, taraf hidup, dan gaya hidup) sehingga naskah diharapkan sesuai dengan latar belakang itu.
  1. Tegas
  2. Memperbaiki tulisan tanpa merusak cara penulis memaparkan pendapatnya.
  3. Haiti-hati dengan iklan terselubung yang masuk dalam tulisan.

 

JIWA REDAKTUR

  1. Memiliki wawasan luas à ilmu jurnalistik.
  2. Berkepala dingin, sanggup bekerja dalam suasana tergesa-gesa dan rumit, tanpa menderita perasaan tertekan.
  3. Cermat, hati-hati, tekun, dan tegas.
  4. elihat sesuatu dari sudut pandang pembaca (berorientasi pada kepentingan pembaca)

PRINSISP DASAR BAHASA JURNALISTIK/PERS

q  Fungsi à bahasa komunikasi massa à harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal. Menurut JS Badudu (1988) bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas di antaranya:

  1. Singkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.
  2. Padat, artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu sudah mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Menerapkan prinsip 5 wh, membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata.
  3. Sederhana, memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, praktis, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis)
  4. Lugas, artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga .
  5. Menarik, artinya dengan menggunakan pilihan kata yang masih hidup, tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.

 

Terdapat empat prinsip retorika tekstual   yang dikemukakan Leech, yaitu prinsip prosesibilitas, prinsip kejelasan, prinsip ekonomi, dan prinsip ekspresifitas.

  1. Prinsip prosesibilitas, menganjurkan agar teks disajikan sedemikian rupa sehingga mudah bagi pembaca untuk memahami pesan pada waktunya. Dalam proses memahami pesan penulis harus menentukan (a) bagaimana membagi pesan-pesan menjadi satuan; (b) bagaimana tingkat subordinasi dan seberapa pentingnya masing-masing satuan, dan (c) bagaimana mengurutkan satuan-satuan pesan itu. Ketiga macam itu harus saling berkaitan satu sama lain.

Penyusunan bahasa jurnalistik dalam surat kabar berbahasa Indonesia, yang menjadi fakta-fakta harus cepat dipahami oleh pembaca dalam kondisi apa pun agar tidak melanggar prinsip prosesibilitas ini. Bahasa jurnalistik Indonesia disusun dengan struktur sintaksis yang penting mendahului struktur sintaksis yang tidak penting

Perhatikan contoh berikut:

Pangdam VIII/Trikora Mayjen TNI Amir Sembiring mengeluarkan perintah tembak di tempat, bila masyarakat yang membawa senjata tajam, melawan serta tidak menuruti permintaan untuk menyerahkannya. Jadi petugas akan meminta dengan baik. Namun jika bersikeras dan melawan, terpaksa akan ditembak di tempat sesuai dengan prosedur (Kompas, 24/1/99)

 

 

Contoh (1) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat pertama menyatakan pesan penting dan kalimat kedua menerangkan pesan kalimat pertama.

 

  1. Prinsip kejelasan, yaitu agar teks itu mudah dipahami. Prinsip ini menganjurkan agar bahasa teks menghindari ketaksaan (ambiguity). Teks yang tidak mengandung ketaksaan akan dengan mudah dan cepat dipahami.

Perhatikan Contoh:

(1)     Ketika mengendarai mobil dari rumah menuju kantornya di kawasan Sudirman, seorang pegawai bank, Deysi Dasuki, sempat tertegun mendengar berita radio. Radio swasta itu mengumumkan bahwa kawasan Semanggi sudah penuh dengan mahasiswa dan suasananya sangat mencekam (Republika, 24/11/98)

(2)     Wahyudi menjelaskan, negara rugi karena pembajak buku tidak membayar pajak penjualan (PPN) dan pajak penghasilan (PPH). Juga pengarang, karena mereka tidak menerima royalti atas karya ciptaannya. (Media Indonesia, 20/4/1997).

Contoh (3) dan (4) tidak mengandung ketaksaan. Setiap pembaca akan menangkap pesan yang sama atas teks di atas. Hal ini disebabkan teks tersebut dikonstruksi oleh kata-kata yang mengandung kata harfiah, bukan kata-kata metaforis.

  1. Prinsip ekonomi. Prinsip agar teks itu singkat tanpa harus merusak dan mereduksi pesan.

Ketua DPP PPP Drs. Zarkasih Noer menyatakan, segala bentuk dan usaha untuk menghindari disintegrasi bangsa dari mana pun atau siapa pun perlu disambut baik (Suara Pembaruan, 21/12/98

 

  1. Prinsip ekspresivitas. Prinsip ini dapat pula disebut prinsip ikonisitas. Prinsip ini menganjurkan agar teks dikonstruksi selaras dengan aspek-aspek pesan. Dalam wacana jurnalistik, pesan bersifat kausalitas dipaparkan menurut struktur pesannya, yaitu sebab dikemukakan terlebih dahulu baru dikemukakan akibatnya. Demikian pula bila ada peristiwa yang terjadi berturut-turut, maka peristiwa yang terjadi lebih dulu akan dipaparkan lebih dulu dan peristiwa yang terjadi kemudian dipaparkan kemudian.

q  Dalam situasi bangsa yang sedang kritis dan berada di persimpangan jalan, karena adanya benturan ide maupun paham politik, diperlukan adanya dialog nasional. “Dialog diperlukan untuk mengubur masa lalu, dan untuk start ke masa depan”. Tutur Prof. Dr. Nurcholis Madjid kepada Kompas di kediamannya di Jakarta Rabu (23/12) (Kompas, 24/12/98).

Pada contoh tampak bahwa kalimat pertama menyatakan sebab dan kalimat kedua mendatangkan akibat.

Pemakaian Kata, Kalimat dan Alinea

Bahasa jurnalistik juga mengikuti kaidah bahasa Indonesia baku. Namun pemakaian bahasa jurnalistik lebih menekankan pada daya kekomunikatifannya. Para pembelajar BIPA tingkat lanjut dapat mempotensikan penggunaan bahasa Indonesia ragam jurnalistik dengan beberapa usaha.

  1. Pemakaian kata-kata yang bernas. Kata merupakan modal dasar dalam menulis. Semakin banyak kosakata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula gagasan yang dikuasainya dan sanggup diungkapkannya.

Dalam penggunaan kata, penulis yang menggunakan ragam BI Jurnalistik diperhadapkan pada dua persoalan yaitu ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Ketepatan mempersoalkan apakah pilihan kata yang dipakai sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis dan pembaca. Sedangkan kesesuaian mempersoalkan pemakaian kata yang tidak merusak wacana.

  1. Penggunaan kalimat efektif. Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung sempurna. Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan itu tergambar lengkap dalam pikiran si pembaca, persis apa yang ditulis. Keefektifan kalimat ditunjang antara lain oleh keteraturan struktur atau pola kalimat. Selain polanya harus benar, kalimat itu harus pula mempunyai tenaga yang menarik.
  2. Penggunaan alinea/paragraf yang kompak. Alinea merupakan suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Setidaknya dalam satu alinea terdapat satu gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas.  Pembuatan alinea bertujuan memudahkan pengertian dan pemahaman dengan memisahkan suatu tema dari tema yang lain.

Capacity Building

  1. Masalah tekanan hidup dan penderitaan yang kita alami justru akan membuat kita semakin kuat.

Komentar saya tentang msalah tersebut yaitu dalam tekanan dan penderitaan yang saat kita alami haruslah kamu pandai-pandai mengklarifikasikan atau mengambil hikmah dengan apa masalah yang dialami. Dan secara tidak langsung masalah tersebut bisa membuat kita kuat dan tegar saat menghadapi sesuatu  yang ada sangkut pautnya / tidak jauh dengan masalah yang pernah kita alami.

Dengan contoh, seandainya kita menjadi anak tiri dalam sebuah keluarga, di saat itu kita selalu mendapatkan teguran, cemooh, mengata-ngatakan kita, dan selalu mencari masalah didalam diri kita agar orang tua tersebut bisa memarahi kita dengan ada alasan, pasti kita hidup ini penuh dengan tekanan kan?

Maka dari itu mari kita hadapi masalah tersebut, janganlah kamu menghindari masalh, karena jika masalah tidak diselesaikan dan selslu di hindari maka yang akan terjadi masalah tersebut selalu juga membayangi kita setiap waktu, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, bahkan bisa membayangu dirimu seumur hidup.

Dimasalah tersebut kita bisa mengmbil hikmahnya untuk menjadi kepribadian kita semakin kuat, yaitu bila anda menjadi anak tersebut dengarkanlah setiap kata-kata yang arang tua ucapkan, dengarkanlah orang tua bila menegur kita jangan masuk teling kanan dan keluar telinga kiri, dengarkanlah atau amatilah bila arang tua mencari kesalahan kita dan kita detegur.

Secara tidak langsung kita mendapatkan sinyal positif untuk diri kita, apakah itu? Kita ambil segi positifnya, jika ditegur dengarkanlah teguran tersebut dan jangan kita lakukan lagi perbuatan yang sudah ditegur. Bila kita dicemooh, janganlah langsung tersinggung dan jangan langsung dimasukan ke hati, itu bisa dibuat intropeksi diri, bisa dibuat keteguhan hati agar kuat, dan bila mereka selalu mencari kesalahan kita biarkan saja toh itu semakin membantu kita untuk bisa membuat kita lebih benar melakukan sesuatu. Kita terima saran-saran mereka, kita dengarkan teguran-teguran mereka, kita intropeksi diri dan setelah itu terapkan apa yang sudah mereka katakana (jika itu benar dilakukan, lakukanlah, bila tidak pantas dilakukan janganlah kamu lakukan)

Di pengalama tersebut kita mendapatkan besar manfaat teguran-teguran dari orang tua untuk masa depan kita, jika bila kita sewaktu saat mempunya keluarga secara tidak langsung kalian juga menerapkan teguran tersebut dengan sendirinya tanpa di tegur lagi. Jika dulu kita terapkan kedisiplinan pada diri kita pasti kita akan melakukanya terus menerus (lakukan kedisiplinan hal-hal yang positif janganlah yang negative) insaallah jalan kita akan baik dan lurus.

Disamping itu kita harus berusaha lebih baik untuk membuat kita semakin kuat, lengkapilah dengan melakukan kewajiban agama yang kita anut, itu bisa menambah kekuatan kita untuk tegar dan bersabar, sangat penting melakukan hal tersebut, tanpa dilengkapi berdoa dan menjalankan perintahnya maka kita tidak bisa melakukan semua ini dengan baik dan benar.

Sukurilah apa adanya yang sudah kita punyai, kita diciptakan sebagai makluk yang tidak mempunyai rasa puas terhadap semua hal, tetapi semeskipun begitu kita harus bersukur apa yang sudah kita miliki. Jangan berfikir kalau kitu paling terpuruk atau yang paling menderita, kita kurang beruntung mendapatkan sesuatu yang ingin kita penuhi. Kita selalu berusaha dan berdoa insaalah semua yang kita inginkan tercapai, meski di dunia ini kita keinginan kita tidak tercapai tetapi insaalah di akirat kita pasti terpenuhi.

Harta tidak akan pernah dibawa mati, harta kita pasti tertinggal didunia. Yang kita bawa kelak adalah amal perbuatan dan amal ibadah selama kita hidup didunia.

Jadi mengalirlah seperti air disungai menempuh perjalanan jauh sampai aliran tersebut berahir, hadapiilah tikunggan aliran tersebut dengan hati-hati dan penuh dengan kesabaran, jika terjatuh bangkitlah dalam kejatuhan tersebut dan mengukuti aliran tersebut dengan lebih baik dan tenang, tidak harus mengambil aliran cepat, ambilah aliran cepat saat arus aliran air lurus dan tenang. Belum tentu lebih cepat lebih baik, makadari itu janganlah terburu-buru mengambil keputusan, dikelola dahulu, difikirkan dahulu sebelum mengucapkan, dan bila sudah pasti baru kita terapkanlah.

Satu yang harus kita ingat di dalam hidup kita yang penuh dengan cobaan tersebut adalah Tuhan. Hanya tuhan dan dirimu sendiri yang bisa menyelamatkan perjalanan hidup kalian. Jangan bosan-bosannya meyebut Tuhan kalian, karena Tuhan selalu memantua dan menolong kita sa’at kita membutuhkan, dan jangan lupakan perintah-perintah Tuhanmu. Jika kalian tidak bisa berbuat dengan sempurna, tetapi berbuatlah baik, benar, jujur, iklas, itu sudah lebih untuk melengkapi perbuatan sempurnamu.

Lanjutkan langkahmu untuk menjadi kepribadian yang lebih maju, jangan kau berhenti melangkah gara-gara jelan menjadi rusak jika kamu berhenti melangkah kamu tidak akan mencapai tujuanmu malainkan meratapi penyesalan dan penderitaan, jadi teruslah melangkah meskipun jalan tidak begitu baik, kita berjalan pelan tapi pasti dan selamat sampai tujuan. Diperjalanan kalian berfikirlah kalau ujian tersebut jangan anggap sebagai bencana untuk kalian melainkan buat itu sebagai pelajaran atau kejutan yang menarik bagi kita dan buat juga itu sebagai semangat kalian untuk menjadi lebih baik dan kuat menghadapi sesuatu.

Apa itu iklan?

Tentunya kita semua sering melihat iklan yang disebar dengan berbagai media, baik itu media cetak (koran, majalah, tabloid,dll)maupun media elektronik seperti TV, Radio dan Internet.
lalu apa tujuannya?
kemudian jenis-jenisnya?

Iklan adalah salah satu bentuk komunikasi persuasif yang merupakan bagian dari kegiatan pemasaran yang bermaksud membujuk khalayak untuk memanfaatkan barang atau jasa. Banyak jenis-jenis iklan yang dapat digunakan untuk membujuk persuade guna mengenal pesan yang disampaikan melalui iklan. Hanya saja komunikasi persuasif dalam periklanan memiliki audien yang tidak mengetahui secara pasti sumber pengirim, keputusan yang mereka buat, tergantung pada seberapa besar komunikator mempengaruhi atau meyakinkan mereka. Untuk itu diperlukan analisis yang terencana berdasarkan kaidah peneltian, guna mengukur seberapa besar efektivitas pesan melalui iklan dapat mempengaruhi keputusan audien/persuade.
Dalam bahasa Inggris dikenal dengan advertising yang berasal dari bahasa latin ad-vere yang berarti mengoperkan pikiran dan gagasan kepada orang lain, sebagaimana halnya pengertian komunkasi. Di Perancis disebut dengan reclamare yang berarti meneriakan sesuatu secara berulang-ulang. Sementara bangsa Arab menyebutkan I’lan. Istilah dalam bahasa Arab inilah yang diadopsi oleh bahasa Indonesia dengan melafalkan menjadi kata ’iklan’.
Dalam perspektif iklan cenderung menekankan pada aspek penyampaian pesan kreatif dan persuasif yang disampaikan melalui media khusus. Dan perspektif pemasaran lebih menekankan pemaknaan iklan sebagai alat pemasaran. Sedangkan perspektif psikologi lebih menekan perspetif persuasif pesan.
Beberapa pandangan tentang iklan telah dituliskan oleh beberapa ahli antara lain :
1. Liiweri,1992:20 secara lengkap menuliskan bahwa iklan merupakan suatu proses komunikasi yang mempunyai kekuatan sangat penting sebagai alat pemasaran yang membantu menjual barang, atau memberi layanan, serta gagasan atau ide-ide melalui saluran tertentu dalam bentuk informasi yang persuasif.
2. Kotler (1991:237) mengartikan iklan sebagai semua bentuk penyajian non personal, promosi ide-ide, promosi barang produk atau jasa yang dilakukan oleh sponsor tertentu yang dibayar. Artinya dalam menyampaikan pesan tersebut, komunikator memang secara khusus melakukannya dengan cara membayar kepada pemilik media atau membayari orang yang mengupayakannya.
Walaupun pengertian iklan terdapat perbedaan perspektif yang berbeda-beda namun sebagaian besar memiliki kesamaan dalam bentuk prinsip pengertian iklan, dimana dalam iklan mengandung enam prinsip dasar yaitu ;
1. adanya pesan tertentu
2. dilakukan oleh komunikator (sponsor)
3. dilakukan dengan cara non personal
4. disampaikan untuk khalayak tertentu
5. dalam menyampaikan pesan dilakukan dengan cara membayar.
6. penyampaian pesan tersebut, mengharapkan dampak tertentu.

Jenis-jenis Iklan
Untuk memetakan jenis-jenis iklan tidaklah mudah, sebab antara satu iklan dangan iklan lainnya sering tumpang tindih. Berikut jenis-jenis iklan yang dikemukakan oleh beberapa ahli dengan sudut pandang masing ;
A. Jenis-jenis iklan berdasarkan manfaat (Kotler)
B. Jenis-jenis iklan menurut berdasarkan klasifikasi pengelompokan (Richard E. Stanley)
C. Jenis jenis iklan berdasarkan (Liliweri (1992):
1. Umum yaitu iklan standar dan layanan masyarakat
2. Iklan khusus yaitu didasarkan pada pembagian jenis iklan, seperti :
a. Berdasarkan media yang digunakan
b. Berdasrkan tujuan komersil dan layanan masyarakat.
c. Berdasarkan Bidang Isi pesan.
d. Berdasarkan wujud produk yang diiklankan.
e. Berdasarkan khalayak sasaran iklan
Dalam prakteknya kegiatan pemasaran tidak hanya diperlukan pruduk yang baik, penetapan harga yang sesuai dan menata (display) pada tempat yang menarik tetapi diperlukan komunikasi yang baik dengan konsumen. Salah satu bentuk kegiatan komunikasi adalah komunikasi persuasi, yang mana komunikasi tersebut melibatkan pengirim (sumber) dan penerima berinteraksi. Hanya saja komunikasi persuasif dalam periklanan memiliki audien yang tidak mengetahui secara pasti sumber pengirim, keputusan yang mereka buat, tergantung pada seberapa besar komunikator mempengaruhi atau meyakinkan mereka. Efektivitas komunikasi persuasif sangat tergantung pada kedua faktor pengirim dan penerima pesan termasuk pesan yang disampaikan dalam periklanan.

Artikel TMMB

Perkembangan pers di Indonesia dan di Dunia

Negara demokrasi adalah Negara yang mengikutsertakan partisipasi rakyat dalam pemerintahan yang dapat memenuhi hak dasar rakyat  dalam kehidupan bangsa dan bernegara. Salah satu hak rakyat adalah dapat meyampaikan argumen-argumen yag mereka pikirkan, baik secara lisan maupun tulis.

Pers sendiri adalah suatu sarana bagi masyarakat untuk berbicara/mengapresiasikan ungkapannya dan ungkapan yang sangat penting dalam Negara demokrasi.

Dalam perkembangan pers Indonesia, menurut saya dari sisi pemberitaan lebih berani “brutal” dan terbuka. Lebih banyak bermunculan pers-pers baru, dengan harapan lebih bisa mengawal dalam proses demokrasi dan pembangunan dalam suatu wilayah tersebut. Sejarah perkembangan pers di Indonesia tidak terlepas dari sejarah politik Indonesia. Pada masa pergerakan sampai masa kemerdekaan, pers di Indonesia terbagi menjadi 3 golongan, yaitu pers Koloni, pers Cina, dan Nasional.

1. Pers Kolonial adalah pers yang diusahakan oleh orang-orang Belanda di Indonesia.

2. Pers Cina adalah pers yang diusahakan oleh orang-orang Cina di Indonesia.

3. Pers Nasional adalah pers yang diusahakan oleh orang0orang Indonesia terutama orang-orang pergerakan dan peruntukan bagi orang Indonesia.

Dimasa ini kebebasan jurnalistik berubah secara drastic menjadi kemerdekaan jurnalistik. Departemen penerangan sebagai malaikat pencabut nyawa pers dengan serta merta dibubarkan. Dalam era reformasi kemrdekaan pers bener-bener dijamain dan senantiasa diperjuangkan untuk diwujudkan.

Pada masa ini terbentuk UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers. Era reformasi ditandai dengan terbukannya kebebasan informasi. Di dunia pers, kebebasan itu ditunjukkan dengan dipermudahnya pengurusan SIUPP sebelum tahun 1998, proses untuk memperoleh SIUPP melibatkan 16 tahap, tetapi dengan instalasi Kabinet BJ.

Habibie proses melibatkan 3 tahap saja. Semua komponen sepakat dan memiliki komitmen yang sama, pers harus hidup dan merdeka. Hidup menurut kaidah manajemen dan perusahaan sebagai lembaga ekonomi. Mereka menuntut kaidah demokrasi, hak asasi manusia dan tentu saja dalam hukum juga.

Berdasarkan perkembangan pers tersebut, dapat diketahui bahwa pers di Indonesia senantiasa berkembang dan berubah sejalan dengan tuntutan perkembangan zaman pers di Indonesia.

Sejarah dan perkembangan pers Indonesia tak lepas dari pengaruh bangsa Barat puluhan tahun silam. Ketika itu bangsa Baratlah yang berjasa melopori hadirnya pers di Indonesia. Yang paling marak pada waktu itu adalah surat kabar atau koran.

Menurut catatan sejarah, akr kehidupan pers di Indonesia sudah ada pada abad ke-17, ketika itu sudah terbit beberapa surat kabar. Pada waktu itu fungsi pers adalah sebagai pencatat peristiwa yang terjadi. Kemudian, akhir abad ke-19, pers di Indonesia hanya berjalan sekadarnya atau tidak ada perkembangan yang signifikan.

Memasuki abad ke-20, geliat pers di Indonesia mulai ada perkembangan. Saat itu, pers mulai mengangkat isu-isu tentang berjamannya pemerintah dan tanggapan masyarakat terhadap kinerja pemerintah sehingga pers mulai menghangat. Kriti0kritik terhadap pemerintah, terutama yang dijalankan oleh Hindia Belanda semakin marak.

Setelah terbit surat kabar pertama yang dikelola pribumi, yaitu Medan Prijaji, pada 1903. dunia pers Indonesia semakin berkembang sajak saat itu, muncul kesadaran bahwa keberadaan pers sangat penting untuk ngutarakan apresiasi masyarakat. Masyarakat pun menjadi lebih berani untuk melakukan perlawanan melalui media koran sehingga pers semakin panas.

Lalu, sampailah pada masa kemerdekaan. Saat itu pers memang berperan besar dalam menyebarkan berita kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah itu, semakin bermunculan surat kabar yang didirikan secara independent, kemudian berkembang pesat dan merasional. Pilihan media pada masa Orde Lama mulai beragam dan bersaing secara sehat.

Setelah euphoria itu, ruang gerak pers agak dibatasi. Pemerintah mulai melakukan pengaturan terhadap pers. Kebebasan pers mulai diusik oleh kepentingan pemerintah Orde Lama. Ruang gerak pers memang tidak terlalu dibatasi. Akan tetapi, tercatat ada buku yang dilarang terbit ketika itu. Hal ini menunjukan bahwa berpendapat mulai dibatasi.

Puncaknya terjadi ketika era Orde Baru. Pemerintah Orde Baru Cenderung dictator dan sangat membatasi kebebasan berpendapat. Orang-orang  yang berani melakukan kritik terhadap pemerintah akan ditindak tegas. Pembredelan pers adalah barang yang lazim terjadi, penculikan wartawan kerapkali terjadi.

Bahkan pers bukan lagi berperan sebagai media yang bebas menyampaikan berita. Melainkan sudah diambil alih untuk mempromosikan program pemerintah dan sebagian media promosi. Pers benar-benar tidak bisa berbuat banyak pada Orde Baru.

Setelah masa Orde Baru, pers di Indonesia menunjukan perkembangan yang sangat signifikan. Pers mulai menemukan fungsi dan peran utamanya. Kebebasan pers tidak dibatasi lagi. Saat ini, semakin banyak pilihan media untuk kita konsumsi, baik media cetak maupun elektrinik. Hal menjadi bukti bahwa pers Indi=onesia berkembang sangat cepat.

Seperti idealnya sebuah surat kabar, isinya tentu saja mengenaikeadaan yang sedang terjadi di tanah air pada saat itu. Pada masa colonial, kita tentunya tahu bagaimana kesengsaraan masyarakat Indonesia si tengah penjara. Seiring dengan perkembangannya sampai tahun 1776 pers Indonesia telah banyak mengankat mengenai permasalahan politik sampai pada akhir abad ke-19 setelah Indonesia merdeka, mengenai kekejaman Kolonial Belanda.

Kemunculan surat kabar tersebut , tentu saja membuat khawatir mereka karena dapat memicu pemberontakan dari masyarakat Indonesia . Oleh Karena itu , maka kegiatan pers Indonesia di hentikan oleh Kolonial Belanda pada tahun tersebut sampai pada akhir abad ke-19 setelah Indonesia merdeka.

Pada zaman Orde Baru, pers Indonesia dapat berkembang sacara signifikan karena mempunyai ruang yang lebih dalam memuat berita yang di dapatkan, dari pada zaman penjajahan Belanda. Namun tetap saja, duniapers tetap terkukung oleh penguasa karena keberadaanya dalam pengungkapan kebenaran, yang pada saat itu masih tertutup oleh penguasa.

Ada banyak berita manipulasi yang dibuat pada saat itu untuk melindungi pemerintah orde baru. Media massa yang mencoba untuk mengungkapkan fakta yang sesungguhnya pada masyarakat harus menerima knyataan pahit akan teror tiada henti yang dilakukan oleh pemerintah. Tidak jarang pula nyawa seorang reporter ataupun petinggi redaksi media massa menjadi taruhannya.

Pengekangan terhadap dunia pers masih terus berjalan hingga pada saat tercetusnya reformasi pada 1998. sejak saat itu, pers Indonesia mulai berani untuk bersuara dan setiap mulai berlomba-lomba untuk mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya kepada masyarakat.

Peranan dunia pers sangat penting artinya bagi Negara kita. Indonesia adalah Negara demokrasi yang menjunjung tinggi partisipasi seluruh rakyatnya dalam menentukan arah Negara ini bersama dengan pemerintah. Masyarakat tidak bisa lagi dikontrol oleh penguasa seperti pada zaman colonial Belanda dan Orde Baru.

Pers adalah salah satu kekuatan rakyat yang bisa diandalkan untuk mengontrol perilaku penguasa untuk selalu ingat akan tugas besar yang diembannya kepada masyarakat. Perkembangan pers baik di Indonesia dan juga seluruh dunia telah menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia pemerintahan ideal yang demokratif.

Model Alternatif Kekuasaan Media

Unsur Dominatif Pluralistik
Sumber masyarakat Kelas penguasa Berbagai kelompok politik, sosial, dan budaya yang saling bersaing.
Media Dimiliki segelintir orang:tipenya seragam Banyak dan independen satu sama lain
Produksi Distandarisasi, rutin dan dikontrol Kreatif, bebas dan asli
Isi dan cara pandang Selektif, dan saling berkaitan dan ditentukan dari “atas” Berbagai pandangan dan saling bersaing; tanggap terhadap keinginan khalayak
Khalayak Dependen, pasif dan diorganisasi dalam skala besar Terpisah-pisah, selektif, reaktif dan aktif
Efek Besar; mempertegas tatanan sosial yang sudah mapan Beraneka ragam; tidak konsisten dan tanpa keteramalan (prediktibilitas) arah, tetapi sering kali „tanpa efek“

Teori Pers Otoritarian (Authoritarian pers)
Muncul pada masa iklim otoritarian di akhir Renaisans, segera setelah ditemukannya mesin cetak. Dalam masyarakat seperti itu, kebenaran dianggap bukanlah hasil dari masa rakyat, tetapi dari sekelompok kecil orang –orang bijak yang berkedudukan membimbing dan mengarahkan pengikut-pengikut mereka.

Jadi kebenaran dianggap harus diletakkan dekat dengan pusat kekuasaan. Dengan demikian pers difungsikan dari atas ke bawah. Penguasa-penguasa waktu itu menggunakan pers untuk memberi informasi kepada rakyat tentang kebijakan-kebijakan penguasa yang harus didukung. Hanya dengan ijin khusus pers boleh dimiliki oleh swasta, dan ijin ini dapat dicabut kapan saja terlihat tanggungjawab mendukung kebijaksanaan pekerjaan tidak dilaksanakan.

Kegiatan penerbitan dengan demikian merupakan semacam persetujuan antara pemegang kekuasaan dengan penerbit, dimana pertama memberikan sebuah hak monopoli dan ang terakhir memberikan dukungan. Tetapi pemegang kekuasaan mempunyai hak untuk membuat dan merubah kebijaksanaan, hak memberi ijin dan kadang-kadang menyensor. Jelas bahwa konsep pers seperti ini menghilangkan fungsi pers sebagai pengawas pelaksanaan pemerintahan.

Praktek-praktek otoritarian masih ditemukan di seluruh bagian dunia walalupun telah ada dipakai teori lain, dalam ucapan kalaupun tidak dalam perbuatan, oleh sebagian besar Negara komunis.

Intinya kebenaran dianggap harus diletakkan dekat dengan pusat kekuasaan. Penguasa dalam menjalankan kekuasaannya menggunakan pers sebagai alat untuk memberi informasi kepada rakyat tentang kebijakan-kebijakan penguasa yang harus didukung. Hanya dengan ijin khusus penguasa pers boleh dimiliki oleh swasta, dan ijin ini dapat dicabut kapan saja tergantung dari bagaimana pers tersebut menjalankan fungsinya, apakah mendukung atau malah membelot dari kebijakan pemerintah.

Kegiatan penerbitan lembaga pers pada masa ini haruslah mengacu pada kontrak persetujuan antara pemegang kekuasaan dengan penerbit. Isi perjanjianpun selalu menyamping pada kepentingan penguasa, dimana pertama memberikan sebuah hak monopoli kepada penerbit dan yang terakhir memberikan dukungan terhadap kebijakan penguasa.

Yang lebih ironis ialah para pemegang kekuasaan mempunyai hak untuk membuat dan merubah kebijaksanaan yang telah disepakati sebelumnya. Penguasa pun memiliki hak untuk menyensor isi pemberitaan yang akan diterbitkan. Hal ini jelas kontras dengan fungsi pers sebagai pengawas pelaksanaan kebijakan pemerintahan dan juga dalam menyampaikan kebenaran objektif kepada masyarakat. Informasi yang diterbitkan adalah kontaminasi dari kepentingan para pemegang kekuasaan.

Secara umum, pers masa Otoritarian memiliki ciri antara lain sebagai berikut:
1. Kebenaran adalah milik pemegang kekuasaan.
2. Pers diatur oleh penguasa sehingga pers kehilangan fungsinya sebagai media kontrol terhadap pemerintahan.
3. Isi pemberitaan harus mendukung kebijakan pemerintah dan tidak boleh membelot dari kepentingan penguasa.
4. Penguasa memiliki kewenangan untuk menyensor isi pemberitaan sebelum dicetak.

Teori Pers Libertarian (Libertarian theory)
Teori ini memutarbalikkan posisi manusia dan Negara sebagaimana yang dianggap oleh teori Otoritarian. Manusia tidak lagi dianggap sebagai mahluk berakal yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, antara alternative yang lebih baik dengan yang lebih buruk, jika dihadapkan pada bukti-bukti yang bertentangan dengan pilihan-pilihan alternative.

Kebenaran tidak lagi dianggap sebagai milik penguasa. Melainkan, hak mencari kebenaran adalah salah satu hak asasi manusia. Pers dianggap sebagai mitra dalam mencari kebenaran.Dalam teori Libertarian, pers bukan instrument pemerintah, melainkan sebuah alat untuk menyajikan bukti dan argument-argumen yang akan menjadi landasan bagi orang banyak untuk mengawasi pemerintahan dan menentukan sikap terhadap kebijaksanaannya.

Dengan demikian, pers seharusnya bebas sari pengawasan dan pengaruh pemerintah. Agar kebenaran bisa muncul, semua pendapat harus dapat kesempatan yang sama untuk didengar, harus ada pasar bebas pemikiran-pemikiran dan informasi. Baik kaum minoritas maupun mayoritas, kuat maupun lemah, harus dapat menggunakan pers.

Sebagian besar Negara non komunis, paling tidak di bibir saja, telah menerima teori pers Libertarian. Tetapi pada abad ini telah ada aliran-aliran perubahan. Aliran ini berbentuk sebuah Otoritarianisme baru di Negara-negara komunis dan sebuah kecenderungan kearah Liberitarianisme baru di Negara-negara non komunis.

Teori Pers Tanggung jawab Sosial (The Social Responsibility pers)
Teori ini diberlakukan sedemikian rupa oleh beberapa sebagian pers. Teori Tanggungjawab social punya asumsi utama : bahwa kebebasan, mengandung didalamnya suatu tanggung jawab yang sepadan dan pers yang telah menikmati kedudukan terhormat dalam pemerintahan Amerika Serikat, harus bertanggungjawab kepada masyarakat dalam menjalankan fungsi-fungsi penting komunikasi massa dalam masyarakat modern.

Asal saja pers tau tanggungjawabnya dan menjadikan itu landasan kebijaksanaan operasional mereka, maka system libertarian akan dapat memuaskan kebutuhan masyarakat. Jika pers tidak mau menerima tanggungjawabnya, maka harus ada badan lain dalam masyarakat yang menjalankan fungsi komunikasi massa.

Pada dasarnya fungsi pers dibawah teori tanggungjawab social sama dengan fungsi pers dalam teori Libertarian. Digambarkan ada enam tugas pers :
1. Melayani sistem politik dengan menyediakan informasi, diskusi dan perdebatan tentang masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.
2. Memberi penerangan kepada masyarakat, sedemikian rupa sehingga masyarakat dapat mengatur dirinya sendiri.
3. Menjadi penjaga hak-hak perorangan dengan bertindak sebagai anjing penjaga yang mengawasi pemerintah.
4. Melayani system ekonomi dengan mempertemukan pembeli dan penjual barang atau jasa melalui medium periklanan,
5. Menyediakan hiburan
6. mengusahakan sendiri biaya financial, demikian rupa sehingga bebas dari tekanan-tekanan orang yang punya kepentingan.

Dalam teori Libertarian, pers bukanlah lagi instrument pemerintah yang dijadikan alat penopang kekuasaan melainkan berperan sebagai kontrol pemerintahan. Pers pada masa ini berperan sebagai sebuah alat untuk menyajikan bukti dan argumen-argumen yang akan menjadi landasan bagi orang banyak untuk mengawasi pemerintahan dan menentukan sikap terhadap kebijaksanaannya.

Teori Libertarian lahir pada saat tumbuhnya demokrasi politik dan paham kebebasan yang berkembang pada abad ke-17. Hal ini muncul sebagai akibat revolusi industri dan digunakannya sistem ekonomi laissez-faire.

Masih banyak kasus yang lain hingga puncaknya pada 1998 saat terjadinya aksi unjuk rasa besar-besaran mahasiswa, pers dianggap membesarkan isu kerusuhan.

Teori Pers Soviet Komunis (The Soviet Communist theory)

Dalam teori Soviet, kekuasaan itu bersifat sosial, berada di orang-orang, sembunyi di lembaga-lembaga sosial dan dipancarkan dalam tindakan-tindakan masyarakat. Kekuasaan itu mencapai puncaknya (a) jika digabungkan dengan semberdaya alam dan kemudahan produksi dan distribusi , dan (b) jika ia diorganisir dan diarahkan.

Partai Komunis memiliki kekuatan organisasi ini. partai tidak hanya menylipkan dirinya sendiri ke posisi pemimpin massa; dalam pengertian yang sesungguhnya, Partai menciptakan massa dengan mengorganisirnya dengan membentuk organ-organ akses dan kontrol yang merubah sebuah populasi tersebar menjadi sebuah sumber kekuatan yang termobilisir.

Partai mengganggap dirinya sebagai suatu staf umum bagi masa pekerja. Menjadi doktrin dasar, mata dan telinga bagi massa. Negara Soviet bergerak dengan program-program paksaan dan bujukan yang simultan dan terkoordinir. Pembujukan adalah tanggungjawabnya para agitator, propagandis dan media. Komunikasi massa digunakan secara instrumental, yaitu sebagai instrumen negara dan partai. Komunikasi massa secara erat terintegrasi dengan instrumen-instrumen lainnya dari kekuasaan negara dan pengaruh partai.

Komunikasi massa digunakan untuk instrumen persatuan di dalam negara dan di dalam partai. Komunikasi massa hampir secara ekslusif digunakan sebagai instrumen propaganda dan agitasi. Komunikasi massa ini punya ciri adanya tanggungjawab yang dipaksakan.

Tugas pokok pers dalam system pers komunis adalah menyokong, menyukseskan, dan menjaga kontinuitas system social Soviet atau pemerintah partai. Dan fungsi pers komunis itu sendiri adalah memberi bimbingan secara cermat kepada masyarakat agar terbebas dari pengaruh-pengaruh luar yang dapat menjauhkan masyarakat dari cita-cita partai.

Antara teori totalitarian dengan teori otoritarian sama-sama menggunakan kata kebebasan untuk masyarakat. Namun kebebasan masyarakat bagi otoritarian adalah kepentingan bisnis, sedangkan bagi totalitarian berarti kepentingan partai.

Dalam hal ini, pers Soviet harus melakukan apa yang terbaik bagi partai dan mendukung partai sebagai sikap dan perbuatan moral yang berorientasi pada kepentingan rakyat (manifestasi kehendak rakyat). Teori ini berpegang pada asas kebenaran berdasarkan teori Marxis.

Pers Soviet bekerja sepenuhnya sebagai alat penguasa, yang dalam hal ini adalah partai komunis. Dimana “Partai Komunis” tersebut dalam pengertian Marxis adalah rakyat. berdasarkan pemahaman itu pers harus mengikuti kebenaran rakyat, yaitu partai yang substansinya adalah pemerintah.

Negara di kawasan ASEAN yang dianut Thailand, Singapura, dan Malaysia, Brunai, Laos tidak memilii undang-undang pers yang dianut. Teori Libertarian dianut oleh inggris.

Sebagian wilayah Malaysia dan India menganut Otoritarian, RRC menganut komunis praktis. Negara Eropa, America, Australia, Denmark menganut pers liberal. Sepanyol, Yunani, India, Kolombia, Turki, Veneswela, Srilangka, dan Portugal yang dianut Otoritarian. Amerika serikat, Inggris, kanada, swedia, Jerman, Belanda, Belgia, Prancis, Australia sebagian Negara-negara tersebut menganut pers liberal.

  • Profil

  • Twitter

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

  • Kalender

    • Desember 2016
      S S R K J S M
      « Agu    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari