Cerpen

Karena Cinta untuk Cinta

 

Suara burung bernyayi, udara pagi yang segar, sinar matahari yang hangat, ku sambut dengan hati yang penuh ceria. Aku harap haru ini akan berjalan lebih baik daripada hari kemarin, seperti motoku.

Ku dengar suara ayahku yang berniat untuk membangunkanku,

“Tari…….bangun sayang, hari sudah siang, katanaya mau ikut ayah kerumah wanita cantik…?”

Langsug aku kontan teringat bahwa hari ini aku akan dikenalkan sosok wanita cantik yang mungkin akan menjadi ibuku.

Ku buka pintu kamarku, lalu menuju halaman belakang. Kulihat wajah ayah yang begitu gembira, segar, dan bersemangat. Bahagia sekali meyaksikan ini sema.

“Ayah pasti senang, soalnya hari ini akan bertemu calon ibuku.

Kemudian aku langsung menuju kamar mandi, setelah mandi, badan segar, siap untuk berangkat kerumah wanita itu. Sambil menunggu ayahku, kumainkan tapeku.

“Eh, telepon do’i ah, siapa tahu dia pergi nggak ada kerjaan,kanlumayan bisa diajak ngobrol dan bercanda, soalnya biasanya kalau pertemuan orang dewasakanserius terus, akukantipe cewek yang suka usil, jadi mana tahan….hehehe!”

Ku telepon do’iku Ardi, “Hai,,,met pagi, lagi ngapain?Adakerjaan gak hari ini.? Kalo gak temenin aku dang kerumah wanita calon ibuku.”

“Sory, tapi kayaknya nggak bisa deh, soalnya hari ini banyak kerjaan yang numpuk, lain kali aja ya? Nggak marahkan?”

“enggak aku ndak marah kok. Kalau begitu selamat menjalankan tugas aja yach. Cepet selesaikan, da……!!!!”

Ku coba jahilin ayah, “Duh ilee, wangi bener ya rumah ini, ada paan sich?”

“Ah, kamu gak usah macem – macem. Ayah jadi malu. Kamu sudah siap?”

OK ayah Tari sudah siap melihat mamaku, “cubitan kecil terasa ditanganku, rupanya ayah sangat malu dengan kata-kataku tadi. Sesampai dirumah wanita itu kami disambut dengan ramah. Setelah masuk dan ngobrol banyak hal, akhirnya aku suka juga dengan wanita itu, sudah lama aku merindukan kasih saying seperti itu.

Tak kusadari mulutku berkata, “ini daerah mana ya tante?” setelah ia jelaskan cirri-ciri desanya, aku teringat dengan do’i. Diakanpernah cerita ciri-ciri rumanya. Kok, sama dengan rumah tante. Sambil terseyum manis, hatiku berkata, Yes kalau dia jadi ibuku, mungkin aku bisa main tiap hari kerumah do’i.

Tapi………rumahnya mana ya? Ah, besok-besok juga ketemu, he…he…he…!!”

Bu liana mencoba membangunkan dari lamunanku. Aku sedikit terkejut, karena agak keras. “Setelah beberapa saat dia memecahkan keheningan dengan berkata “Tante juga punya anak laki-laki yang umurnya seumurmu.”

“Siapa Tante namanya, cakep nggak, baik enggak, terus………….”

“Terus, dia itu calon kakamu!” suara ayah mencoba menghentikan pembicaraanku karena dia sudah tau apa yang akan aku bicarakan selanjutnya. “Tante, mana manusianya? Eh, salah calon kakaku.”

“Dia nggak dirumah, katanya mau kerumah teman untuk menyelasaikan tugas. Nanti sebentar lagi juga datang, kamu nggak sabar ya?”

Sambil menunggu pulang aku main-main dihalaman belakang, setelah beberapa saat, ku dengar suara montor dari anak laki-laki yang begitu kenal.

Kucoba mengintipnya dan begitu terkejutnya aku karena yang datang itu Ardi.Adaapa sih yang terjadi, aku bingung, apalagi setelah aku melihat dia mencium calon mamaku. Seribu satu pertanyaan muncul dari dalam pikiranku. “janagn-jangan…….,” tubuhku lemas tak berdaya.

Oh………Tuhan haruskah aku menerima kenyataan ini, mengapa laki-laki yang begitu aku sayangi harus manjadi kakaku. Aku bingung, haruskah aku memilih yang mana, diri sendiri atau ayahku!

Beberapa hari aku selalu mengurung diri dikamar. Sampai pada akhirnya tibalah waktu pernikahan ayah. Aku tak bergairah sama sekali. Orang yang aku cinta ini harus menjadi kakaku, aku tak mungkin  lagi bisa memilikinya. Aku sadari kalo cinta itu harus memiliki dan dimiliki.

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Profil

  • Twitter

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya